Minggu, 11 Oktober 2015

Meminta Maaf itu !!! (menang dalam mengalahkan keegoisan dan kesombongannya yang tertanam dalam diri kita)


Memimpin Rapat Singkat Keakraban 2013
Gua minta maaf, Maafin gua ya, ehh sorry ya, maaf banget kemaren itu bla.. blaa. sering kali kata-kata ini mudah sekali terlontar, namun ada kalanya hanya  "maaf" susah sekali terucap, seakan lidah ini kelu. Sebenarnya apa yang menghalangi kita untuk mengucapkan kata "maaf" ini ? apakah keegoisan telah tertanam dalam jiwa kita, apakah kita merasa selalu melakukan yang benar dan tidak pernah melakukan kesalahan, apakah ketika kita meminta maaf, derajat ataupun martabat kita akan turun ? apakah meminta maaf akan mempermalukan diri kita? apakah meminta maaf akan memperlihat kita bersalah? . Jawabannya saya kira, anda sendiri akan mengetahuinya.

Pada dasarnya, ketika kita melakukan kesalahan kepada seseorang, maka akan ada sesuatu yang berbicara dalam hati kecil kita bahwa kita harus meminta maaf akan kesalahan yang telah kita lakukan, namun seperti yang tadi saya tanyakan, ada semacam konflik batin yang terjadi didalam pikiran kita mengenai hal ini. Pikiran yang membuat kita enggan untuk meminta maaf.

Dalam suatu kesempatan kami bekerja dalam suatua acara, kami punya pendapat masing-masing, kami punya presepsi yang berbeda, walaupun pada nantinya akan tertuju pada suatu tujuan "Sukses". Dasarnya keras kepala, tidak mau mengalah, dan merasa paling benar, ya itulah saya dan mereka pada massanya, seoarang mahasiswa yang punya ego tinggi, seorang mahasiswa yang masih mencari jati diri, seorang mahasiswa yang sedang mempertahankan eksistensi dirinya, seorang mahasiswa yang ingin merasa dipandang lebih dari orang lain. Namun pada suatu kesempatkan saya mengambil suatu keputusan dengan resiko yang besar dan kalian tau hasilnya, saya melakukan kesalahan besar, acara yang digadang-gadang akan sukses seakan mimpi belaka. Marah, iya, Kecewa, iya, Malu, pastinya. Keegoisan yang telah tertanam sebelumya membuat saya malu mengakui itulah kesalahan saya. Jujur saja, pada saat itu saya sempat terlintas akan mengkambinghitamkan seseorang. Namun apa yang terjadi, Seseorang itu menyadarkan saya akan sebuah ketulusan, menyadarkan saya akan berlapang dada ketika melakukan kesalahan, menyadarkan saya akan rasa tanggung jawab dalam bekerja, menyadarkan saya akan derajat ataupun martabat tak bearti apa-apa jika tidak ada sebuah ketulusan dan kejujuran didalamnya. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk meminta maaf atas keegois saya dalam mengambil suatu keputusan. Masih ingat dalam benak saya, saat itu untuk pertama kalinya saya meminta maaf secara formal dihadapan banyak orang, mengakui segala kesalahan dan keogisan. Saya percaya sebagai manusia biasa kita semua pasti pernah melakukan kesalahan.  sebagai manusia yang tak pernah luput dari kesalahan pasti kita pun tak bisa luput dari saling maaf memaafkan. Setelah kejadian itu,  luruhnya semua pikiran saya akan keegoisan, 2 hari yang tersisa, kami manfaatkan untuk memulainya dari garis start. Walaupun tidak terlalu maksiamal akhirnya, namun banyak pelajaran yang saya ambil. Saya cuma ingin mengingatkan kepada diri saya dan kepada teman-teman sekalian, bahwa janganlah ragu ketika ada kesalahan yang telah kita sadari dan kita ingin meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti hatinya, selama orang tersebut masih dapat menerima maaf kita, maka segeralah meminta maaf kepadanya. Perlu di ingat meminta maaf berarti mengetahui kesalahan yang dilakukan, dan berjanji memperbaikinya. Ketika kita meminta maaf pada seseorang, maka seharusnya kita telah paham benar apa kesalahan yang telah kita lakukan. Percuma jika minta maaf tanpa tahu kesalahannya Kata maaf itu hanya seperti sebuah motor  tanpa bensin , kartu kredit tanpa rekening. Terlihat berharga dari luar namun tak ada isinya, dan tentu saja tak ada gunanya. Meminta maaf itu sebenarnya mudah. Namun apa yang kita lakukan setelah meminta maaf itu yang susah. Bagaiamana caranya agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Percuma kita meminta maaf kalau itu hanya keluar dari ucapan saja sedangkan sikap kita tak menunjukkan perubahan, tak ada penyesalan atas apa yang kita lakukan. 
Coba kita bayangkan ketika kita melakukan suatu kesalahan, namun kita enggan untuk meminta maaf, hingga pada suatu waktu ketika kita sudah berniat untuk meminta maaf, namun diwaktu itu juga kita mengetahui bahwa orang tersebut telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, ataupun sebaliknya ketika wakunya hampir tiba dipanggil oleh Yang Maha Kuasa , kita mau meminta maaf atas segala kesalahan yang kita perbuat. Maka apakah sempat kesalahan kita akan dapat dimaafkan ? apakah kedepannya kita dapat hidup dengan tenang tanpa memikirkan kesalahan yang telah kita lakukan ? 

Janganlah pernah merasa rendah ketika kita ingin meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita lakukan kepada seseorang, karena sesungguhnya orang yang meminta maaf akan diangkat derajatnya olah Allah. Itu janji-Nya. Semua orang berhak atas maaf dan berhak memaafkan. Jadi, jangan takut untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat asal jangan melakukan kesalahan yang sama. Karena hanya orang berani saja yang mampu meminta maaf. Setidaknya sudah menang dalam mengalahkan keegoisan dan kesombongannya yang tertanam dalam diri kita. 

"Meminta maaf tidak selalu berarti bahwa kamu salah dan orang lain benar . Ini hanya berarti bahwa kamu menghargai hubungan kamu lebih dari ego kamu".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar