| Memimpin Rapat Singkat Keakraban 2013 |
Gua minta maaf, Maafin gua ya, ehh sorry ya, maaf
banget kemaren itu bla.. blaa. sering kali kata-kata ini mudah sekali
terlontar, namun ada kalanya hanya "maaf" susah
sekali terucap, seakan lidah ini kelu. Sebenarnya apa yang menghalangi
kita untuk mengucapkan kata "maaf" ini ? apakah keegoisan telah
tertanam dalam jiwa kita, apakah kita merasa selalu melakukan yang benar dan
tidak pernah melakukan kesalahan, apakah ketika kita meminta
maaf, derajat ataupun martabat kita akan turun ? apakah meminta maaf akan
mempermalukan diri kita? apakah meminta maaf akan memperlihat kita bersalah? . Jawabannya saya kira, anda sendiri akan mengetahuinya.
Pada dasarnya, ketika kita melakukan kesalahan kepada
seseorang, maka akan ada sesuatu yang berbicara dalam hati kecil kita bahwa
kita harus meminta maaf akan kesalahan yang telah kita lakukan, namun seperti
yang tadi saya tanyakan, ada semacam konflik batin yang
terjadi didalam pikiran kita mengenai hal ini. Pikiran yang membuat kita enggan
untuk meminta maaf.
Dalam suatu kesempatan kami bekerja dalam suatua
acara, kami punya pendapat masing-masing, kami punya presepsi yang berbeda,
walaupun pada nantinya akan tertuju pada suatu tujuan "Sukses".
Dasarnya keras kepala, tidak mau mengalah, dan merasa paling benar, ya itulah
saya dan mereka pada massanya, seoarang mahasiswa yang punya ego tinggi,
seorang mahasiswa yang masih mencari jati diri, seorang mahasiswa yang sedang
mempertahankan eksistensi dirinya, seorang mahasiswa yang ingin merasa
dipandang lebih dari orang lain. Namun pada suatu kesempatkan saya mengambil
suatu keputusan dengan resiko yang besar dan kalian tau hasilnya, saya
melakukan kesalahan besar, acara yang digadang-gadang akan sukses seakan mimpi
belaka. Marah, iya, Kecewa, iya, Malu, pastinya. Keegoisan yang telah tertanam
sebelumya membuat saya malu mengakui itulah kesalahan saya. Jujur saja, pada
saat itu saya sempat terlintas akan mengkambinghitamkan seseorang. Namun apa
yang terjadi, Seseorang itu menyadarkan saya akan sebuah ketulusan, menyadarkan
saya akan berlapang dada ketika melakukan kesalahan, menyadarkan saya akan rasa
tanggung jawab dalam bekerja, menyadarkan saya akan derajat ataupun martabat
tak bearti apa-apa jika tidak ada sebuah ketulusan dan kejujuran didalamnya.
Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk meminta maaf atas keegois saya
dalam mengambil suatu keputusan. Masih ingat dalam benak saya, saat itu untuk
pertama kalinya saya meminta maaf secara formal dihadapan banyak orang,
mengakui segala kesalahan dan keogisan. Saya percaya sebagai manusia biasa kita
semua pasti pernah melakukan kesalahan. sebagai manusia yang tak pernah
luput dari kesalahan pasti kita pun tak bisa luput dari saling maaf memaafkan.
Setelah kejadian itu, luruhnya semua pikiran saya akan keegoisan, 2 hari
yang tersisa, kami manfaatkan untuk memulainya dari garis start. Walaupun tidak terlalu
maksiamal akhirnya, namun banyak pelajaran yang saya ambil. Saya cuma ingin
mengingatkan kepada diri saya dan kepada teman-teman sekalian, bahwa janganlah
ragu ketika ada kesalahan yang telah kita sadari dan kita ingin meminta maaf
kepada orang yang telah kita sakiti hatinya, selama orang tersebut masih dapat
menerima maaf kita, maka segeralah meminta maaf kepadanya. Perlu di ingat
meminta maaf berarti mengetahui kesalahan yang dilakukan, dan berjanji
memperbaikinya. Ketika kita meminta maaf pada seseorang, maka seharusnya kita
telah paham benar apa kesalahan yang telah kita lakukan. Percuma jika minta
maaf tanpa tahu kesalahannya Kata maaf itu hanya seperti sebuah motor
tanpa bensin , kartu kredit tanpa rekening. Terlihat berharga dari luar namun
tak ada isinya, dan tentu saja tak ada gunanya. Meminta maaf itu sebenarnya
mudah. Namun
apa yang kita lakukan setelah meminta maaf itu yang susah. Bagaiamana
caranya agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Percuma kita meminta maaf
kalau itu hanya keluar dari ucapan saja sedangkan sikap kita tak menunjukkan
perubahan, tak ada penyesalan atas apa yang kita lakukan.
Coba
kita bayangkan ketika kita melakukan suatu kesalahan, namun kita enggan untuk
meminta maaf, hingga pada suatu waktu ketika kita sudah berniat untuk meminta
maaf, namun diwaktu itu juga kita mengetahui bahwa orang tersebut telah
dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, ataupun sebaliknya ketika wakunya hampir tiba
dipanggil oleh Yang Maha Kuasa , kita mau meminta maaf atas segala kesalahan yang
kita perbuat. Maka apakah sempat kesalahan kita akan dapat dimaafkan ? apakah
kedepannya kita dapat hidup dengan tenang tanpa memikirkan kesalahan yang telah
kita lakukan ?
Janganlah
pernah merasa rendah ketika kita ingin meminta maaf atas kesalahan yang pernah
kita lakukan kepada seseorang, karena sesungguhnya orang yang meminta maaf akan
diangkat derajatnya olah Allah. Itu janji-Nya. Semua orang berhak atas maaf dan
berhak memaafkan. Jadi, jangan takut untuk meminta maaf atas kesalahan yang
telah diperbuat asal jangan melakukan kesalahan yang sama. Karena hanya orang
berani saja yang mampu meminta maaf. Setidaknya sudah menang dalam
mengalahkan keegoisan dan kesombongannya yang tertanam dalam diri kita.
"Meminta maaf tidak selalu berarti bahwa kamu salah dan orang lain benar . Ini hanya berarti bahwa kamu menghargai hubungan kamu lebih dari ego kamu".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar