Kamis, 12 Oktober 2017

Lulusan Pendidikan "ngelamar" Bank Indonesia. WHY NOT




Awal 2016 saya mencoba mendaftar dunia perbankan. Salah satunya Bank Indonesia kualifikasi Staf G2. Dari sini saja permasalahan sudah muncul. Latar belakang pendidikan saya yang jauh dari dunia perbankan membuat  saya minder. Jujur saja saya tidak percaya diri dalam melamar pekerjaan ini. Akan tetapi semua itu sirna taatkala saya bertemu dengan teman saya yang sukses dengan dunia kerja yang berbeda dengan latar belakang pendidikan. Beliau menceritakan bagaimana merintis karir dari nol tanpa kkn dan uang. Bagaimana beliau mendaftar kerja, wawancara, tes psikotes kesana kemari. Tak jarang ditahap akhir beliau tidak lolos. Tak jarang pula beliau dihina saat mendaftar karna kualifikasi pendidikan yang bertolak belakang sekali dunia kerja yang beliau geluti. Tetapi berkat tekad besar, semangat yang membara dan doa yang tidak terputus akhirnya beliau sukses di dunia sekarang. Hal ini inilah yang memberanikan diri saya mencoba berkompetisi dengan  teman-teman yang kompetititif dalam merebutkan pekerjaan di bank Indonesia. Dorongan keluarga yang sangat besar serta doa orangtua yang tiada putus setelah sholat membuat rasa percaya diri saya semakin tinggi. Di tambah lagi saya sesorang yang suka sekali memotivasi diri sendiri untuk membangkitkan semangat berkompetesi.

Satu persatu tahap saya lalui, tes adminitrasi lulus, tes psikotetes Bank Indonesia yang terkenal susah Alhamdulillah saya lewati, itu pun untuk pertama kalinya saya mencicipi test psikotest dalam mendaftar kerja. Tes wawancara awal terlewati dengan mulus, begitupun tes kesehatan dan tes kejiwaan. Namun seperti Allah punya rencana lebih baik. Saat penggumuman tahap akhir saya dinyataakan tidak dapat mengikuti wawancara akhir setelah diperingkat nilai keseluruhan dari awal. Jujur saja sempat kecewa atas hasil ini dan kembali tidak percaya diri. Namun setelah mengingat perjuangan saya dari awal mendaftar, bertemu dengan teman-teman yang kompetitif dari berbagai universitas terkemuka yang tak jarang banyak berpredikat cumload membuat saya berfikir ulang  atas potensi diri saya sendiri. Dari pengalaman inilah saya membangun brand dan citra yang positif dalam melamar pekerjaan yang berbeda dari latar belakang pendidikan saya. Saya juga berharap saya dapat sukses di dunia pekerjaan serta dapat berbagi pengalaman dengan adik, teman, rekan semua yang mamasuki dunia perkerjaan. Kuncinya dari permasalahan ini yang saya tahu adalah 1. motivasi diri. Motivasi sendiri sangatlah penting, sekuat apapun pengaruh dari luar. Jika diri sendiri sudah dibentengi oleh rasa percaya diri yang tinggi. Kemungkinan besar pikiran negative akan susah masuk. 2. Belajar lebih dari orang biasanya. Sudah tahu latar belakang pendidikan yang berbeda, saya memajibkan diri membaca buku-buku ekonomi dan isu global saat ini. Karna saya yakin semua ilmu dapat dipelajari, yang membedakan hanyalah waktu dan kesempatannya saja. Percayalah usaha tidak akan menghianati hasil. 3. Bangun pikiran positif dari semua kejadian yang dihadapi. Percayalah rezeki sudah diatur. Manusia hanya bisa berihtiar, Seperti pengalaman saya tadi, awanya memang mulus namun memang bukan rezeki saya bekerja di Bank Indonesia.

Kamis, 03 November 2016

Bedamailah dengan dirimu sendiri

Selamat malam, Sudah lama tak berjumpa.
Entalah ada yang membaca atau tidak, Semoga yang membaca dalam keadaan sehat dan baik. Saya pribadi dalam keadaan sehat dan baik. alhamdulillah

Sehat, iyalah pipi yang samakin mengembang menandakan berat badan sedang naik. Alhamdulilah berat badan sedang naik ini tahun ini, entah karena strees ataukah memang makmur. kurus kurus, bentuk badan uyyyy..kapan ???

Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada saya melalui email, saya akan menjawabnya disini. Semoga terwakilkan.
1. Apa rutinitas sekarang?
Kalo ditanya rutinitas. Sekarang masih mengajar di salah satu sekolah swasta dan negeri pagi hari dan pada siang hari mengajar bimbel di deket rumah. Alhamdulilah bisa mengisi dompet walau tidak seberapa
2. Apa kamu menikmati rutinitas sekarang?
Alhamdulillah, saya bersyukur atas semua yang didapatkan sekarang, tidak munafik terkadang saya membandingkan hidup saya dengan teman-teman saya. Tapi dilain sisi saya juga bersyukur karna masih banyak teman teman saya yang belum berada diposisi saya
3. Akan terus menjali rutinitas sekarang atau mencoba yang lain?
Mencoba terus yang lain sampe hati menentapkan diri. Pada dasarnya saya tidak begitu menikmati yang rasakan sekarang. Setiap ada kesempatan saya selalu berusaha keluar dari zona nyaman ini. Saya tau resikonya 50:50, tapi bukankah itu menyenangkan. Hidup yang dinamis, selalu mencoba hal-hal baru dan tahu tentang dunia luar
4.Kalau tidak begitu menikmati, alasan apa yang menyebabkan kamu bertahan?
Keluarga pastinya, bukan keluarga tidak mengizinkan untuk keluar atau berkembang, hanya saja saya yang meninginkannya. Saya ingin menganti  waktu-waktu yang hilang selama 3,5 tahun sebelumnya. Selalu pulang sore, jarang makan dirumah, ngobrol santai pun jarang. Semua itu saya balaskan di tahun ini. Selain itu saya juga dapat belajar mengembangakan ilmu-ilmu saya yang didapatkan di kampus.
5.Apakah nyaman berada didunia pendidikan
Sangat nyaman, begitu nyamannya terasa mebosankan, semua terjadi sesuai dengan planning yang saya buat. Walaupun ada beberapa kendala yang saya bisa jadikan sebuah pengalaman berharga.
6.Kendala apa yang kamu hadapi di dunia pendidikan ini?
Berwibawa dihadapan murid sunggul hal yang tidak bisa bilang mudah, mungkin karena faktor gaya mengajarkan saya yang joyfull learning. materi pembajaran yang kurang matang hambatan saya dalam mengajar.
7. Hal unik apa yang kamu dapatkan saat mengajar disekolah
Bertemu dengan pribadi anak yang bervariasi, ada yang bikin kesel, bikin ketawa, bikin emosi, bikin bangga, campur-campurlah. Bertemu dengan murid yang super keras, mau menang sendiri dan susah sekali untuk dinasehati, bertemu dengan murid yang lucu-lucu, bertemu murid yang polos belum tau intrik dunia. Setiap bertemu salaman layaknya bertemu ustad. Ketemu murid yang seneng banget saya ajarin, Ngobrol santai, melihat tingkah laku mereka yang membuat saya bernostalgia pada kehidupan saya di masa itu. Selain bertemu dengan guru-guru yang berbagai macam juga sifatnya. Tua, muda, seumuran semuanya ada. Belum lagi becandaanya yang gak pantes sebenernya dibahas dikalangan guru-guru. wkwkkw
8. Masih mau jadi guru
Mmmm mencoba yang lain dulu kayaknya. Kalaupun disini jalannya saya hanya bisa menjalaninya
9. Emang mau jadi apa
Nah itu yang saya tanyaka pada diri saya, saya iri pada mereka yang punya impian. Impian saya jadi guru, sekarang saya sudah jadi guru. Saya masih mencari impian saya sekaligus yang dapat menghidupi untuk kedapannya. Mungkin ke dunia bank,kantoran atau perusahaan. Semua akan saya coba, tapi saya lebih condong ke kantoran. Kalaupun ada kesempatan berbisnis saya akan mencobanya.
10. Kapan mau meninggalakn rutinitas yang sekarang
Mungkin tahun depan, semoga ini keputusan yang benar. Saya percaya saya dapat menjalankanya, setiap manusia punya rezekinya masing-masing. Yang namanya rezeki tidak akan pernah tertukar, tugas saya hanya berusaha
11. Terus kenapa harus keluar dari rutinitas yang sekarang
Saya percaya ada tambang emas yang diluar disana yang disediakan untuk saya, mungkin ini momentum yang tepat untuk saya bangkit dari kebohongan perasaan ini. Selain itu untuk membayar rasa penasaran saya Apakah saya dapat berdiri diatas kaki saya sendiri tanpa ada bayang-bayang sesorang. Hidup dinamis itu menyenangkan bagi saya. cukup sudah  hidup yang statis dan membosankan.
Saya tahu, suatu hari mungkin saya ingin kembali massa dimana saya hidup dengan statis, damai-damai saja, tapi saya percaya hidup dinamis itu lebih berwarna dan menyenangkan hidup, setidaknya akan banyak sub judul cerita dalam hidup saya. Orang sukses selau banyak cerita dalam hidupya, bukan begitu. Saat saya sedang ingin hidup stastis semoga saya teringat postingan ini.
12. Seberapa yakin?
Yakin. Jika saya terus dirutinitas ini saya tidak pernah tahu apakah saya bisa lebik sukses, bukan mencoba lebih baik daripada hanya melihat, hanya"ngempross dalam hati" buat, hidup gitu-gitu aja membosankan, saya juga ingin jadi orang bercukupan.
Saya dulu takut naik roll coster di trans studio Bandung, kemudian saya mencobanya sekali. Sekali mencoba saya ketagihan sampai 5X kali saya naik ulang roll coster di trans studio Bandung. Setelah saya mencobanya. Semua itu hanya awalnya saja, percayalah selanjutkan pasti akan banyak jalan.
Tidak akan pernah tau rasanya jika tidak mencoba. Sesuatu yang menakutkan terkadang hanya terlihat dari luarnya saja, setelah dijalani belum tentu menyeramkan seperti yang kita bayangkan
13. Jika gagal ?
Terus mencoba, hidup perjungan bukan, lakukan saja yang terbaik. berusahalah membuat semua orang bangga atas apa yang kamu pilih, buat mereka(orang-orang yang meremehkan) diam dan iri terhadapat apa yang dapatkan
14. Rencana jangka pendek
Mungkin tahun ini berhenti dari rutinitas sekarang, dan mencoba hal baru di tanah jawa. sebagai orang padang merantau bukanlah hal yang luarbiasakan. lakukanlah. apapun yang dilakukan saya yakin Allah yang pilihkan untuk saya.
15. Rencana spesifik
Insyallah kuliah S2 di IPB ngambil konsentrasi mikrobilogi atau biosains, bimbel bahasa inggris, cari banyak kenalan bisnis. Cari temen yang bisa menunjang pekerjaan.
16 Kenapa ambil yang mipa bukanya ahli dibidang pendidikan. UPI Bandung kerankan?
Justru itu karna berada di zona aman, saya dapat memperhitungkannya. Saya mau mencoba hidup lebih berwana, penuh dengan harapan. karena pada setiap harapan ada rasa puas sendiri setelah mendapatkanya, Di mipa biosains atau mikrobiologi merupakan hal baru bagi saya. Selain itu dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi saya.
17. Tidak adakah keinginan nyari kerja saja
Ada, setiap ada kesempatan saya selalu memcoba, BPJS Ketenagakerjaan, KPK masih saya coba. doakan saja. Mungkin PT. KAI juga boleh. Apapun saya akan berusaha.

Cukup ya, mungkin pertanyaan selanjutnya bisa lain kali saya jawab.
sampai jumpa lagi
11.3.06 11.09pm

Kamis, 05 Mei 2016

22-5 (Jika kamu ingin mengubah hidupmu, maka kamu harus memutuskan untuk segera melakukanya, bukan menunggu)


Menulislah Menulislah..Setidaknya ini adalah hal positif yang saya dapat lakukan sebagai insan manusia dari pada melakuakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sekian lama tak menyentuh blogger karna ada beberapa hal yang salah satunya saya sedang menjalani aktivitas baru sebagai guru. Yah begituah sekarang saya menjadi seorang guru. Menjadi guru sebenarnya tidaklah menyita waktu, tenaga dan pikiran. Kemungkin karna saya terlalu enjoy dalam melakukan hal ini, tapi inilah bumerang bagi saya sendiri.

Terbiasa dengan sebuah tantangan membuat kehidupan saya lebih menarik, akan tetapi sekarang ini saya dalam sebuah situasi yang membingungkan, dimana saya merasa enjoy tapi disaat yang sama saya merasa bosan akan hal itu. Entahlah dimana letak kesalahannya tapi memang saya merasa sangat  jenuh akan sebuah rutinitas ini. Melihat kebelakang seharusnya saya bersyukur akan apa yang sudah dapat sekarang, Lulus kuliah langsung kerja sesuai dengan jurusan di 2 sekolah yang berbeda negeri dan swasta. Seharusnya saya merasa senang akan hal ini, akan tetapi entahlah saya merasa ini bukan passion saya. Saya merasa seharusnya saya dari lebih dari ini.  Bukanya ingin sombong atau bagaimana. Bukanya tidak mau bersyukur atas apa yang sudah didapat akan tetapi saya ingin naik tingkat yang lebih tinggi. Saya tidak mau terlalu lama diposisi ini, ini membuang waktu saya. Mungkin terlihat egois ya, tapi saya ingin menggapai mimpi-mimpi saya.

Begini sederhananya ketika berkumpul dengan orang-orang berpikir statis, hidup akan jalan di tempat, tidak menarik dan membosankan. Itu yang rasakan sekarang. Saya terbelunggu oleh sebuah aturan-aturan yang klise tetapi harus saya jalani. Susah sekali saya mengungkapkan apa yang saya ingin utaran tapi semoga apa yang saya pikirkan itu sampai ke tujuannya

Saya tidak pernah tau 5 tahun kedepan, 10 tahun kedapan saya akan menjadi apa? Tapi setidaknya usia terus berjalankan, ketika diusia produktif ini saya hanya menjalan rutinitas yang membosan, hidup saya tidak menarik, tidak penuh akan warna. Mungkin pengalaman baru iya, tapi ketika itu menjadi rutinitas akan menjadi sangat membosankan. Saya berfikir masih banyak ilmu-ilmu  yang  belum saya dapatkan untuk menjalani kerasnya kehidupan ini. Saya ingin mendapatkan pengalaman yang banyak dan berbeda. Jelas bukan materi yang saya cari disini. Saya terlalu muda untuk itu. Saya belum pantas memasuki dunia baru ini. Kapan pantasnya, secepatnya !!! Mungkin bagi orang-orang lain sudah, tapi bagi saya belum. Saya yang tahu diri saya, jadi jangan menjust macam-macamlah. Umur anda lebih tua, jangan paksakan saya berpikir seperti anda yang sehari harus dapet uang segini, beli ini, gak boleh itu. Itu pikiran anda, So jangan salahkan saya ingin mencari banyak pengalaman hidup, saya ingin kesana, saya ingin kesini, jangan salahkan saya pula tidak fokus pada satu hal. Jelas saat ini bukan materi yang saya cari, tapi proses mencarinya yang cari. Ini lebih mahal dari materi yang didapatkan. Saya yakin ini benar, jadi jangan terlalu percaya diri dengan tindakan yang menyatakan kamu benar dan saya salah. Saya juga tidak memaksakan saya yang benar dan anda yang salah. Saya tahu sebenarnyaa maksudnya bagaimana? Ini bagus saling sharing, saling memotivasi, Cuma caranya yang saya tidak suka. Menyudutkan saya seolah-olah saya yang tidak bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan. Mungkin penyebabnya faktor usia menjadi kendalanya. Saya menang untuk urusan usia, disini saya masih banyak waktu itu berfikir kearah sana. Mungkin ketika saya di umur itu, saya akan berfikir seperti anda. So biarkan diumur ini saya berekplorasi dengan ide-ide saya, saya berfikir dengan cara saya. Satu pertanyaan yang menggelitik buat saya, Di umur saya sekarang waktu itu anda sudah berfikir sepikir saya, apa yang anda pikirkan?? atau masih berfikir sama seperti saya diusia pada waktu itu. “ Jika kamu ingin mengubah hidupmu, maka kamu harus memutuskan untuk segera melakukanya, bukan menunggu”

Mungkin bagi pembaca sekilas terlihat saya yang terlalu sombong, egois, dan tidak mau bersyukur. Tapi baca lagi, semoga kalian mengerti apa tujuan saya menuliskan ini, dan anda dapat merasakan bagaimana rasanya diposisi saya.


"Menjadi pribadi yang selalu bertindak baik memang bukanlah hal yang mudah, apalagi kita sebagai manusia bukanlah makhluk yang smepurna. Namaun dengan selalu berfikir positif menjadi cara yang snagat amapuh untuk mengatasi segala masalah masalah tersebut. seberat apapun masalahnya, pasti akan terasa ringanjika kita berfikir positif dan tak pernah menyerah. banyak orang berbicara bijaksana karena ingin bangkit dari kegagalan. Namaun nyatanya kegagalan terus menghampirinya kerena tak ada usaha yang nyata, hanya sebatas berfikir dan berucap, lalu tidak mengambil tindakan sunguh-sunguh."



Minggu, 06 Desember 2015

"Rizky manusia itu akan terus mengalir sampai batas umur mereka, Jika masih diberi kehidupan berati masih banyak rizky-rizky yang belum dijemput begitupun sebaliknya."

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang sebelumnya, Dalam kesempatan ini saya hanya ingin sedikit mencurahakan unek-unek didalam otak yang saya ingin teriakan pada dunia. Inikah dunia sebenerrnya, begitu munafikah mereka, begitu kejamkah mereka. Ini semua tidak sesuai dengan teori yang saya pelajari. 

Hidup di zaman yang semakin sulit seperti ini mungkin ribuan orang banyak yang merasakannya. Ribuan orang berlomba mencari pekerjaan untuk bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Jutaan orang yang telah mendapatkan pekerjaan dan puluhan juta orang belum mendapatkan pekerjaan yang dinamakan nganggur.

Banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan, bisa dengan cara melamar sendiri, minta bantuan kepada orang yang telah bekerja (nepotisme), ataupun membayar perusahaan agar bisa di terima denga cepat. Pernah terlintas dalam pikiran saya, "Buat apa harus kerja keras". "Buat apa harus belajar susah-susah". Toh mereka yang berduit, mereka yang punya kolaga orang penting akan berjaya. Dunia kerja itu kejam. Penuh dengan ketidakadilan. 
"Waktu itu saya melamar kerja pada sebuah instansi pemerintahan, dan kalian tahu apa yang terlontar dari mulut manis bapak berbaju dinas itu "Bawaan siapa mas?"

Sebenarnya saya masih ragu, inikah rasa marah pribadi atas jalan hidup saya yang tidak semulus biasanya, yang biasanya apa yang saya mau selalu saya dapatkan, apa yang saya sukai selalu saya raih atau saya marah atas ketidakadlian sistem yang penuh dengan ketidakadilan ini. Entahlah mungkin salah satu dari itu benar ataupun dua-duanya benar. Saya cuma mencoba yakin, bahwa meraka salah dan saya benar. Terbiasa dengan kejujujuran dan sportifitas yang tinggi sejak kecil, menambah keyakinan saya meraka yang salah. Mungkin saya bagian dari sekolompok kecil newbie yang terlalu polos pada dunia kerja. Sekolompok kecil newbie yang mencari alasan-alasan pada ketidakadilan ini. Kemunafikan dan keserakahan orang yang mencari posisi aman, orang-orang yang mencari "ketenangan" dunia.

Ingatlah ada "Agama" masih tetap menjadi pedoman hidup. Saya tidak menyesal telah telah bekerja keras sampai detik ini. Saya pun tidak menyesal susah belajar mati-matian hingga IPK 3.50 di saya dapatkan. Tidak sedikitpun saya kecewa tak terlahir dari golongan orang kaya ataupun punya kolega orang-orang di instansi tertentu. Saya buktikan saya benar, mereka salah. Walau saya yakin ini sulit, bukanya hanya kerikil kecil yang saya akan hadapi. tapi tembok kemunafikan yang begitu tabal. Jatuh bangun mungkin akan menjadi makanan saya, tapi saya yakin Allah bersama mereka orang-orang jujur dan sabar. Tetap menjalankan perintahnya dan menjuahi larangannya dan Allah akan membantu kita. Jika tidak bisa di dunia setidaknya akherat nanti sudah banyak tabungan.

Masih terekam dalam otak saya, "Rizky manusia itu akan terus mengalir sampai batas umur mereka, Jika masih diberi kehidupan berati masih banyak rizky-rizky yang belum dijemput begitupun sebaliknya."

Saya berdoa semoga kelak saya tidak seperti mereka orang-orang yang penuh kemunafikan dan keserakahan. Walaupun dalam detik ini saya masih mencari kayakinan dalam hati orang jujur juga bisa berjaya kok, orang punya otak masih bisa sukses kok. Tapi Entahlah seberapa kuat saya dalam situasi seperti ini. Semoga saja saya tidak goyah pada keputusan ini dan tetap pada jalan yang benar walupun saya yakin ini sulit.

Saya berharap tulisan ini mengingatkan saya ketika sudah berjaya nanti. Tetap menunjung nilai kejujuran dan sportifitas.

Rabu, 14 Oktober 2015

Kebersamaan bersama keluarga (Uang itu berharga… Kebersamaan dan kekeluargaan jauh lebih berharga. Tak ternilai! )


robbin family's
"Indahnya kebersamaan", meskipun kata-kata tersebut begitu mudah dan simpel untuk dikatakan namun itu adalah dua buah kata yang sangat sulit untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Anda mungkin adalah orang yang memiliki kesibukan yang super dan jadwal pekerjaan yang padat, akan tetapi jangan serta-merta hal ini menjadi sebuah alasan dan pembenaran bagi Anda manakala Anda tak lagi memiliki waktu yang berkualitas untuk keluarga. Cobalah untuk berkontemplasi ( merenung dengan penuh perhatian) dan mulai memikirkan sejenak bahwa keluarga sesungguhnya adalah diatas segalanya, bahkan pekerjaan Anda. Mungkin baru sekarang saya menyadari ini, dan tidak ada salahnya saya menshare agar Anda tidak terlambat lagi seperti saya. Akan tetapi sebelumnya saya bersyukur atas segala terjadi, karna pada dasarnya semua itu untuk pasti ada hikmahnya.

Selesai kuliah ini saya menyadari banyak waktu yang terbuang bersama keluarga, berangkat pagi pulang malam. Setelah makan malam, mengerjakan tugas, kemudian tidur esoknya berangkat kuliah lagi, sepertinya itulah rutinitas saya sehari-hari. Tak jarang hari minggu yang digadang-gadang akan menjadi best moment bersama kelurga, harus saya ihlaskan karna kebetulan selain menjadi mahasiswa, saya juga menjabat dibeberapa  bidang kepala organisasi kampus. Selain itu, sebagai mahasiswa sainstis, saya juga sempat mencicipi rasanya menjadi anak laboratorium (assisten praktikum ceritanya) yang bercengkrama dengan mikroskop dan teman-temanya,  saking asyiknya menikmati pengatahuan, sering kali lupa waktu untuk pulang. Belum lagi teman-teman kelas yang sering sekali mengajak hangout bersama melepas penat setelah lama bercengkrama dengan nama-nama ilmiah dan konsep-konsep biologi yang menyambung dari satu ke lainnya. Saya tegaskan lagi, saya bersyukur atas segala terjadi, semua itu pilihan dan saya  memilih ini. Saya tau pasti akan ada value yang saya dapatkan setelah ini walaupun tak sedikit hal-hal yang saya korbankan dan salah satunya waktu.

Masih ingat dalam ingatan saya, hari itu saya pulang dari kampus jam 7 malam. Setelah penat belajar, lelah dengan kegiatan, ditambah lagi harus berdiri  1 jam lebih disebuah bus ekonomi yang panasnya luar biasa. Entah sedang apes atau apa, bus AC langganan saya sudah lewat, terpaksalah  naik bus ekonomi. Perut yang keroncongan membuat emosi saya tak tertahan ingin segera makan kemudian tidur dirumah dan berangkat lagi esok hari untuk menjalankan kembali rutinitas. Namun apa yang terjadi setelah sampai rumah, tidak ada satupun makanan yang tersaji. Nasi kuning sisa kemeren saja hanya cukup untuk makan kucing. Ingin sekali saya marah saat itu, Namun hati ini luluh, batin saya menangis tak karauan seketika ketika ibu saya berkata "Eh anak ibu udah pulang, gimana kuliahnya, udah makan? uang jajanya cukup? maafin ibu ya, ibu gak masak, ibu sedikit capek ini". Terlihat raut muka pucat menahan sakit sambil memaksakan tersenyum untuk menyambut anaknya pulang kuliah. Tertenduk lesu, binggung harus berbuat apa. Rasa lapar seketika hilang begitu saja. Disaat sakit saja, hanya ada anknya dalam pikiranya. Pernahkan dalam kesaharian terlintas dalam pikiran Anda tentang Ibu, Ibu sedang apa dirumah? ibu makan apa? apakah ibu hari ini sehat? (.......) Kebiasaan ibu, ketika anaknya pulang, hanya tanya sudah makan? setelah itu diam, tak ada satupun kata yang terucap sampai anaknya sendiri yang menegurnya kembali. Capek runititas, terkadang saya jarang menegurnya kembali. Akan tetapi suatu hari, ibu bertanya cukup banyak? mungkin beliau cukup rindu terhadap anaknya diakhir obrannya masih teringat sampai sekarang "Bin, kapan ada libur, kok perasaan mahasiswa sekarang sibuk banget, udah jarang banget mijet ibu ya, ngobrol aja gak pernah lagi. "Jadi relakah Anda menukar kehangatan dalam keluarga Anda dengan kesibukan dalam pekerjaan Anda yang mungkin sudah sangat berlebihan?"

Setelah lulus kuliah, belum mendapatkan pekerjaan yang tetap, saya cukup menikmatinya untuk sekarang Kebersamaan yang semakin intim, banyak waktu santai. Saya begitu menikmatinya. Sungguh, inilah moment-moment yang saya rindukan dan saya dambakan. Bisa bercengkrama dengan ayah dan ibu, bercerita tentang kejadian-kejadian sewaktu kuliah, bercerita tentang beliau saat muda dulu. Inilah kebahagiaan, saya sungguh menikmatinya. Banyak yang mengagngap kebersamaan dalam keluarga adalah hal sepele. Tapi tahukah Anda keluarga yang harmonis terbentuk dari kebersamaan sehari-hari. Kebersamaan itu adalah suatu hal yang sungguh indah sekali, karena setiap manusia pasti menginginkan kebersamaan dengan orang-orang yang dicintainya itu, sehingga kebersamaan dalam hal apapun itu sungguh sangat indah sekali kita rasakan, dari kebersamaan itu kita bisa belajar banyak hal tentang hidup ini salah satunya adalah kita bisa melakukan sesuatu hal yang lebih bermakna dan berkesan dalam hidup bersama keluarga. 

14-10-2015 hari libur nasional yang bertapatan dengan tahun baru islam. Hari ini sebenarnya saya ada acara untuk menghadiri keakraban di program study. Entahlah mengapa panitia memilih hari ini (bukan diaturan jawa 1 syuro tidak boleh kemana-mana, sudahlah saya juga tidak terlalu mau bahas yang ini tidak penting juga, diadat minang semua hari baik tergantung setiap priabdi yang akan menjalaninya). Dengan banyak pertimbangan saya memutuskan tidak mengadiri acara tersebut, akan tetapi semua terbayar mahal dengan kebersaaman keluarga yang begitu erat. Pagi hari kami sudah bersih-bersih rumah, memperbaiki taman depan rumah, kemudian membuat ikan bakar khas padang bersama. Tak lupa membuat jajanan empek-empek khas palembang bersama uni, ibu, dan ayah. Sorenya tak disangka uni saya yang 1 yang pertama berkunjung kerumah. Ini benar moment yang jarang sekali terjadi. setelah kami dewasa susah sekali ada moment-moment seperti ini. Malam harinya, riuh yang saya rindukan kembali terdengar. dan saya benar-benar bahagia.

Akhirnya sekian dulu cerita yang bisa kami berikan sebagai renungan rehat anda setelah melakukan berbagai aktivitas yang tentunya melelahkan. Saya kembali mengingkan diri saya pribadi dan teman-teman sekali "Jadikan hidup anda berarti untuk orang-orang terdekat yang anda miliki. Dengan demikian, kebahagiaan perlahan akan menghampiri anda. Oleh karena itu hargai setiap kebersamaan bersama dengan keluarga, jadikanlah setiap kebersamaan bersama orang-orang yang paling kita cintai dengan sesuatu hal yang beda dan berarti dalam hidup ini, karena kebersamaan merekalah salah satu harta yang sangat berharga dalam hidup kita. Pada akhirnya kita akan sampai pada suatu titik dimana pada dasarnya semua yg kita lakukan, semua jerih lelah kita dalam pekerjaan, semua untuk mereka "Keluarga"

Ingatlah teman waktu itu terus berjalan, jangan sampai menyesai dikemudian hari karna tidak dapat bekata "ibu terimaksih", "maaf ya bu", Ibu masak apa" , "ibu cantik hari ini", "ayah udah makan", "ayah bagaimana pendapatmu tentang ini". Baiklah mulai sekarang luangkan waktu sedikit saja saja bersama keluarga, entah itu hanya minum teh atau makan bersama karena seorang manusia akan berjalan mengelilingi dunia untuk menemukan apa yang ia inginkan. Dan yang paling ia inginkan tak lain adalah kembali pulang kerumah.
 
Uang itu berharga… Kebersamaan dan kekeluargaan jauh lebih berharga. Tak ternilai!

Minggu, 11 Oktober 2015

Meminta Maaf itu !!! (menang dalam mengalahkan keegoisan dan kesombongannya yang tertanam dalam diri kita)


Memimpin Rapat Singkat Keakraban 2013
Gua minta maaf, Maafin gua ya, ehh sorry ya, maaf banget kemaren itu bla.. blaa. sering kali kata-kata ini mudah sekali terlontar, namun ada kalanya hanya  "maaf" susah sekali terucap, seakan lidah ini kelu. Sebenarnya apa yang menghalangi kita untuk mengucapkan kata "maaf" ini ? apakah keegoisan telah tertanam dalam jiwa kita, apakah kita merasa selalu melakukan yang benar dan tidak pernah melakukan kesalahan, apakah ketika kita meminta maaf, derajat ataupun martabat kita akan turun ? apakah meminta maaf akan mempermalukan diri kita? apakah meminta maaf akan memperlihat kita bersalah? . Jawabannya saya kira, anda sendiri akan mengetahuinya.

Pada dasarnya, ketika kita melakukan kesalahan kepada seseorang, maka akan ada sesuatu yang berbicara dalam hati kecil kita bahwa kita harus meminta maaf akan kesalahan yang telah kita lakukan, namun seperti yang tadi saya tanyakan, ada semacam konflik batin yang terjadi didalam pikiran kita mengenai hal ini. Pikiran yang membuat kita enggan untuk meminta maaf.

Dalam suatu kesempatan kami bekerja dalam suatua acara, kami punya pendapat masing-masing, kami punya presepsi yang berbeda, walaupun pada nantinya akan tertuju pada suatu tujuan "Sukses". Dasarnya keras kepala, tidak mau mengalah, dan merasa paling benar, ya itulah saya dan mereka pada massanya, seoarang mahasiswa yang punya ego tinggi, seorang mahasiswa yang masih mencari jati diri, seorang mahasiswa yang sedang mempertahankan eksistensi dirinya, seorang mahasiswa yang ingin merasa dipandang lebih dari orang lain. Namun pada suatu kesempatkan saya mengambil suatu keputusan dengan resiko yang besar dan kalian tau hasilnya, saya melakukan kesalahan besar, acara yang digadang-gadang akan sukses seakan mimpi belaka. Marah, iya, Kecewa, iya, Malu, pastinya. Keegoisan yang telah tertanam sebelumya membuat saya malu mengakui itulah kesalahan saya. Jujur saja, pada saat itu saya sempat terlintas akan mengkambinghitamkan seseorang. Namun apa yang terjadi, Seseorang itu menyadarkan saya akan sebuah ketulusan, menyadarkan saya akan berlapang dada ketika melakukan kesalahan, menyadarkan saya akan rasa tanggung jawab dalam bekerja, menyadarkan saya akan derajat ataupun martabat tak bearti apa-apa jika tidak ada sebuah ketulusan dan kejujuran didalamnya. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk meminta maaf atas keegois saya dalam mengambil suatu keputusan. Masih ingat dalam benak saya, saat itu untuk pertama kalinya saya meminta maaf secara formal dihadapan banyak orang, mengakui segala kesalahan dan keogisan. Saya percaya sebagai manusia biasa kita semua pasti pernah melakukan kesalahan.  sebagai manusia yang tak pernah luput dari kesalahan pasti kita pun tak bisa luput dari saling maaf memaafkan. Setelah kejadian itu,  luruhnya semua pikiran saya akan keegoisan, 2 hari yang tersisa, kami manfaatkan untuk memulainya dari garis start. Walaupun tidak terlalu maksiamal akhirnya, namun banyak pelajaran yang saya ambil. Saya cuma ingin mengingatkan kepada diri saya dan kepada teman-teman sekalian, bahwa janganlah ragu ketika ada kesalahan yang telah kita sadari dan kita ingin meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti hatinya, selama orang tersebut masih dapat menerima maaf kita, maka segeralah meminta maaf kepadanya. Perlu di ingat meminta maaf berarti mengetahui kesalahan yang dilakukan, dan berjanji memperbaikinya. Ketika kita meminta maaf pada seseorang, maka seharusnya kita telah paham benar apa kesalahan yang telah kita lakukan. Percuma jika minta maaf tanpa tahu kesalahannya Kata maaf itu hanya seperti sebuah motor  tanpa bensin , kartu kredit tanpa rekening. Terlihat berharga dari luar namun tak ada isinya, dan tentu saja tak ada gunanya. Meminta maaf itu sebenarnya mudah. Namun apa yang kita lakukan setelah meminta maaf itu yang susah. Bagaiamana caranya agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Percuma kita meminta maaf kalau itu hanya keluar dari ucapan saja sedangkan sikap kita tak menunjukkan perubahan, tak ada penyesalan atas apa yang kita lakukan. 
Coba kita bayangkan ketika kita melakukan suatu kesalahan, namun kita enggan untuk meminta maaf, hingga pada suatu waktu ketika kita sudah berniat untuk meminta maaf, namun diwaktu itu juga kita mengetahui bahwa orang tersebut telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, ataupun sebaliknya ketika wakunya hampir tiba dipanggil oleh Yang Maha Kuasa , kita mau meminta maaf atas segala kesalahan yang kita perbuat. Maka apakah sempat kesalahan kita akan dapat dimaafkan ? apakah kedepannya kita dapat hidup dengan tenang tanpa memikirkan kesalahan yang telah kita lakukan ? 

Janganlah pernah merasa rendah ketika kita ingin meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita lakukan kepada seseorang, karena sesungguhnya orang yang meminta maaf akan diangkat derajatnya olah Allah. Itu janji-Nya. Semua orang berhak atas maaf dan berhak memaafkan. Jadi, jangan takut untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat asal jangan melakukan kesalahan yang sama. Karena hanya orang berani saja yang mampu meminta maaf. Setidaknya sudah menang dalam mengalahkan keegoisan dan kesombongannya yang tertanam dalam diri kita. 

"Meminta maaf tidak selalu berarti bahwa kamu salah dan orang lain benar . Ini hanya berarti bahwa kamu menghargai hubungan kamu lebih dari ego kamu".