Minggu, 06 Desember 2015

"Rizky manusia itu akan terus mengalir sampai batas umur mereka, Jika masih diberi kehidupan berati masih banyak rizky-rizky yang belum dijemput begitupun sebaliknya."

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang sebelumnya, Dalam kesempatan ini saya hanya ingin sedikit mencurahakan unek-unek didalam otak yang saya ingin teriakan pada dunia. Inikah dunia sebenerrnya, begitu munafikah mereka, begitu kejamkah mereka. Ini semua tidak sesuai dengan teori yang saya pelajari. 

Hidup di zaman yang semakin sulit seperti ini mungkin ribuan orang banyak yang merasakannya. Ribuan orang berlomba mencari pekerjaan untuk bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Jutaan orang yang telah mendapatkan pekerjaan dan puluhan juta orang belum mendapatkan pekerjaan yang dinamakan nganggur.

Banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan, bisa dengan cara melamar sendiri, minta bantuan kepada orang yang telah bekerja (nepotisme), ataupun membayar perusahaan agar bisa di terima denga cepat. Pernah terlintas dalam pikiran saya, "Buat apa harus kerja keras". "Buat apa harus belajar susah-susah". Toh mereka yang berduit, mereka yang punya kolaga orang penting akan berjaya. Dunia kerja itu kejam. Penuh dengan ketidakadilan. 
"Waktu itu saya melamar kerja pada sebuah instansi pemerintahan, dan kalian tahu apa yang terlontar dari mulut manis bapak berbaju dinas itu "Bawaan siapa mas?"

Sebenarnya saya masih ragu, inikah rasa marah pribadi atas jalan hidup saya yang tidak semulus biasanya, yang biasanya apa yang saya mau selalu saya dapatkan, apa yang saya sukai selalu saya raih atau saya marah atas ketidakadlian sistem yang penuh dengan ketidakadilan ini. Entahlah mungkin salah satu dari itu benar ataupun dua-duanya benar. Saya cuma mencoba yakin, bahwa meraka salah dan saya benar. Terbiasa dengan kejujujuran dan sportifitas yang tinggi sejak kecil, menambah keyakinan saya meraka yang salah. Mungkin saya bagian dari sekolompok kecil newbie yang terlalu polos pada dunia kerja. Sekolompok kecil newbie yang mencari alasan-alasan pada ketidakadilan ini. Kemunafikan dan keserakahan orang yang mencari posisi aman, orang-orang yang mencari "ketenangan" dunia.

Ingatlah ada "Agama" masih tetap menjadi pedoman hidup. Saya tidak menyesal telah telah bekerja keras sampai detik ini. Saya pun tidak menyesal susah belajar mati-matian hingga IPK 3.50 di saya dapatkan. Tidak sedikitpun saya kecewa tak terlahir dari golongan orang kaya ataupun punya kolega orang-orang di instansi tertentu. Saya buktikan saya benar, mereka salah. Walau saya yakin ini sulit, bukanya hanya kerikil kecil yang saya akan hadapi. tapi tembok kemunafikan yang begitu tabal. Jatuh bangun mungkin akan menjadi makanan saya, tapi saya yakin Allah bersama mereka orang-orang jujur dan sabar. Tetap menjalankan perintahnya dan menjuahi larangannya dan Allah akan membantu kita. Jika tidak bisa di dunia setidaknya akherat nanti sudah banyak tabungan.

Masih terekam dalam otak saya, "Rizky manusia itu akan terus mengalir sampai batas umur mereka, Jika masih diberi kehidupan berati masih banyak rizky-rizky yang belum dijemput begitupun sebaliknya."

Saya berdoa semoga kelak saya tidak seperti mereka orang-orang yang penuh kemunafikan dan keserakahan. Walaupun dalam detik ini saya masih mencari kayakinan dalam hati orang jujur juga bisa berjaya kok, orang punya otak masih bisa sukses kok. Tapi Entahlah seberapa kuat saya dalam situasi seperti ini. Semoga saja saya tidak goyah pada keputusan ini dan tetap pada jalan yang benar walupun saya yakin ini sulit.

Saya berharap tulisan ini mengingatkan saya ketika sudah berjaya nanti. Tetap menunjung nilai kejujuran dan sportifitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar