Berbeda dengan tulisan-tulisan yang sebelumnya,
Dalam kesempatan ini saya hanya ingin sedikit mencurahakan unek-unek didalam
otak yang saya ingin teriakan pada dunia. Inikah dunia sebenerrnya, begitu
munafikah mereka, begitu kejamkah mereka. Ini semua tidak sesuai dengan teori
yang saya pelajari.
Hidup di zaman yang semakin sulit seperti ini
mungkin ribuan orang banyak yang merasakannya. Ribuan orang berlomba mencari
pekerjaan untuk bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Jutaan orang yang
telah mendapatkan pekerjaan dan puluhan juta orang belum mendapatkan pekerjaan
yang dinamakan nganggur.
Banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan
pekerjaan, bisa dengan cara melamar sendiri, minta bantuan kepada orang yang telah
bekerja (nepotisme), ataupun membayar perusahaan agar bisa di terima denga
cepat. Pernah terlintas dalam pikiran saya, "Buat apa harus kerja
keras". "Buat apa harus belajar susah-susah". Toh mereka yang
berduit, mereka yang punya kolaga orang penting akan berjaya. Dunia kerja itu
kejam. Penuh dengan ketidakadilan.
"Waktu itu saya melamar kerja pada sebuah
instansi pemerintahan, dan kalian tahu apa yang terlontar dari mulut manis
bapak berbaju dinas itu "Bawaan siapa mas?"
Sebenarnya saya masih ragu, inikah rasa marah pribadi atas jalan hidup saya yang tidak semulus biasanya, yang biasanya
apa yang saya mau selalu saya dapatkan, apa yang saya sukai selalu saya raih
atau saya marah atas ketidakadlian sistem yang penuh dengan ketidakadilan ini.
Entahlah mungkin salah satu dari itu benar ataupun dua-duanya benar. Saya cuma
mencoba yakin, bahwa meraka salah dan saya benar. Terbiasa dengan kejujujuran
dan sportifitas yang tinggi sejak kecil, menambah keyakinan saya meraka yang
salah. Mungkin saya bagian dari sekolompok kecil newbie yang terlalu
polos pada dunia kerja. Sekolompok kecil newbie yang mencari
alasan-alasan pada ketidakadilan ini. Kemunafikan dan keserakahan orang yang
mencari posisi aman, orang-orang yang mencari "ketenangan" dunia.
Ingatlah ada "Agama" masih tetap
menjadi pedoman hidup. Saya tidak menyesal telah telah bekerja keras sampai
detik ini. Saya pun tidak menyesal susah belajar mati-matian hingga IPK 3.50 di
saya dapatkan. Tidak sedikitpun saya kecewa tak terlahir dari golongan orang
kaya ataupun punya kolega orang-orang di instansi tertentu. Saya buktikan saya
benar, mereka salah. Walau saya yakin ini sulit, bukanya hanya kerikil kecil
yang saya akan hadapi. tapi tembok kemunafikan yang begitu tabal. Jatuh bangun
mungkin akan menjadi makanan saya, tapi saya yakin Allah bersama mereka
orang-orang jujur dan sabar. Tetap menjalankan perintahnya dan menjuahi
larangannya dan Allah akan membantu kita. Jika tidak bisa di dunia setidaknya
akherat nanti sudah banyak tabungan.
Masih terekam dalam otak saya, "Rizky manusia itu akan terus mengalir sampai batas umur mereka, Jika masih diberi kehidupan berati masih banyak rizky-rizky yang belum dijemput begitupun sebaliknya."
Saya berdoa semoga kelak saya tidak seperti
mereka orang-orang yang penuh kemunafikan dan keserakahan. Walaupun dalam detik
ini saya masih mencari kayakinan dalam hati orang jujur juga bisa berjaya kok,
orang punya otak masih bisa sukses kok. Tapi Entahlah seberapa kuat saya dalam
situasi seperti ini. Semoga saja saya tidak goyah pada keputusan ini dan tetap
pada jalan yang benar walupun saya yakin ini sulit.
Saya berharap tulisan ini mengingatkan saya ketika sudah berjaya nanti. Tetap menunjung nilai kejujuran dan
sportifitas.
